Strategi Pemasa…

Strategi Pemasaran Sabun Kaki Actimed; Analisis Periklanan Media

 

  1. I.                  Pendahuluan

 

 

        Iklan                               Promosi                              Pemasaran

 

Iklan adalah taktik untuk memikat khalayak  melalui berbagai strategi dengan tujuan mengajak/membujuk/merayu khalayak untuk melakukan kegiatan/aksi sesuai arahan dari komunikator .

Bagan proses komunikasi periklanan:

Produsen

Iklan

Media

Khalayak Sasaran

 

 

Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, kendaraan umum dan internet. (Monle Lee & Carla Johnson)

Iklan adalah sebuah seni dari persuasi dan dapat didefinisikan sebagai desain komunikasi yang dibiayai untuk menginformasikan dan membujuk. (Paul Copley)

Periklanan didefinisikan sebagai bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. (Kotler)

Secara sederhana iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan untuk suatu masyarakat lewat suatu media. Namun demikian, untuk membedakannya dengan pengumuman biasa, iklan lebih diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. (Rhenald Kasali)

 

  1. II.               Isi

 

Media-media massa yang ada di Indonesia terdiri dari:

 

  1. 1.                  Media Massa Cetak (Printed Media)

 

Media massa yang dicetak dalam lembaran kertas. Dari segi format dan ukuran kertasnya, media massa cetak secara rinci meliputi:

  1. Koran atau surat kabar (ukuran kertas broadsheet atau 1/2 plano)
  2. Tabloid (1/2 broadsheet)
  3. Majalah (1/2 tabloid atau kertas ukuran folio/kwarto)
  4. Buku (1/2 majalah)
  5. Newsletter (folio/kwarto, jumlah halaman lazimnya 4-8)
  6. Buletin (1/2 majalah, jumlah halaman lazimnya 4-8).

Isi media massa umumnya terbagi menjadi tiga bagian atau tiga jenis tulisan yaitu berita, opini dan feature.

 

  1. 2.                  Media Massa Elektronik (Electronic Media)

 

Jenis media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dan suara dengan menggunakan teknologi elektro; seperti radio, televisi dan film.

 

  1. 3.                  Media Online (Online Media, Cybermedia)

 

Yakni media massa yang dapat kita temukan di internet (situs web).

 

Saya memilih sabun kaki actimed, karena saya melihat permasalahan kecil seperti bau kaki dapat mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Permasalahan seputar kaki lainnya yang bisa muncul dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu kaki gatal-gatal, kaki bau, kaki penat, kaki berdaki, kaki pecah-pecah dan kaki kasar. Banyak hal dapat kita lakukan terhadap permasalahan-permasalahan di atas, diantaranya selain memoleskan lotion kaki ada juga lotion khusus kaki pecah atau pun lotion khusus dari dokter. Banyak produk-produk lotion kaki yang telah beredar di pasaran di antaranya Vaseline, Citra Beauty Lotion dan sebagainya. Produk khusus lotion kaki pecah yang ada di pasaran contohnya Kanna. Dan kita juga dapat memesan lotion tersebut dari dokter kepercayaan kita.

Berikut adalah produk dari Sabun Kaki Actimed tersebut:

 

Siapa pangsa pasar Sabun Kaki Actimed?

 

Jika dilihat dari produknya yaitu perawatan kaki, sudah pasti pangsa pasarnya adalah perempuan, mulai perempuan remaja hingga dewasa dan lanjut usia.

Mengapa perempuan remaja? Karena perempuan mulai tumbuh kesadaran untuk merawat diri pada saat remaja dimana merupakan masa akil balik. Mengapa perempuan dewasa? Karena perempuan dewasa pastilah akan merawat dirinya dengan sebaik-baiknya karena kesadaran dirinya telah lama ada. Mengapa perempuan lanjut usia? Karena produk ini berupa sabun yang dapat digunakan di air hangat yang dapat memijat kaki-kaki, sehingga bagus untuk kesehatan.

Bagaimana dengan pangsa pasar laki-laki? Produk ini tentu saja bukan hanya dapat digunkan oleh perempuan saja, tetapi laki-laki pun dapat menggunkannya. Namun untuk laki-laki, pasar yang mungkin menjadi tujuan adalah jenis laki-laki metrosexual yaitu laki-laki yang hidup di perkotaan yang sangat memperhatikan penampilannya.

Bagaimana dengan anak-anak? Saya rasa anak-anak atau yang saya beri batsan umurnya disini yaitu antara 5-10 tahun, belum mempunyai masalah seperti diatas.

 

Bagaimana sifat pangsa pasar/konsumen Indonesia?

 

  1. 1.                  Berpikir jangka pendek

Ternyata sebagian besar konsumen Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit diajak berpikir jangka panjang. Salah satu cirinya adalah dengan mencari yang serba instan/cepat. Produk semacam Extra Joss, Hemaviton Jreng, Indomie, dsbnya laris manis. Sebaliknya, masih sangat susah sekali memasarkan asuransi pada sebagian besar penduduk indonesia karena konsumen cenderung enggan melakukan investasi (dalam bentuk apapun) yang hasilnya bisa dinikmati mungkin belasan tahun ke depan. Salah satu strategi yang masih ampuh untuk konsumen yang berpikiran pendek 
adalah dengan memberikan diskon dan hadiah langsung. Survei AC Nielsen menunjukkan 76% pembeli menyukai diskon harga dan 18% menyukai hadiah langsung.

 

  1. 2.                  Tidak terencana

Konsumen Indonesia termasuk konsumen yang tidak terbiasa merencanakan sesuatu.

Sekalipun sudah, tapi mereka akan mengambil keputusan pada saat-saat terakhir. Kebiasaan ini mirip dengan kebiasaan konsumen nomor satu. Namun jika kebiasaan pertama tidak melihat jauh ke depan, kebiasaan kedua ini tidak menyiapkan sesuatu jauh di belakang. Mungkin rata-rata kita waktu kuliah mengenal SKS (Sistem Kebut Semalam) dalam belajar atau dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Termasuk dalam mendaftar seminar sampai membayar tagihan, semua dilakukan dalam waktu yang mepet. Salah satu bentuk perilaku konsumen yang tidak punya rencana adalah terjadinya Impulse Buying (membeli tanpa rencana/spontan membeli ketika tertarik dengan sebuah produk). Berdasarkan survey Nielsen, ternyata 85% pembelanja ritel modern cenderung untuk berbelanja sesuatu yang tidak direncanakan. Strategi yang paling baik untuk karakter ini adalah dengan membuat display semenarik mungkin dan strategis tempatnya atau bisa juga dibantu dengan SPG.

 

  1. 3.                Suka berkumpul

Kebiasaan suka berkumpul sudah melekat dalam budaya konsumen kita,
sampai adanya istilah “ mangan ora mangan sing penting ngumpul ” dalam masyarakat jawa. Strategi paling efektif untuk karakter ini adalah strategi komunikasi Word Of Mouth, ini terbukti dari riset para pembeli rumah lewat KPR, awareness tertinggi konsumen terhadap produk KPR bukanlah berasal dari iklan atau brosur, tetapi justru dari teman atau relasi. Hal serupa juga terjadi dalam pembelian minyak pelumas. Kesuksesan yang di raih Amanda Brownies dan Kartika Sari dari Bandung juga mengandalkan strategi ini. Kata kunci dari strategi Word Of Mouth ini adalah terletak pada opini leader dari komunitas yang ada. Sebab, jika sang pemimpin bisa diyakinkan pada sebuah merk, maka dia akan memberikan rekomendasi kepada komunitasnya.

 

  1. 4.                Gagap teknologi


Rendahnya penetrasi teknologi tinggi di indonesia menunjukkan bahwa mayoritas konsumen kita relatif masih “ gaptek ” sehingga adopsi terhadap suatu teknologi relatif jauh lebih lambat. Hal ini tampak dalam survei Frontier tentang alasan konsumen tidak menggunakan mobile banking, 32.66% mengatakan tidak tahu mengoperasikannya dan 16.75 menganggapnya tidak aman. Begitu juga dengan penetrasi penggunaan internet, baru menyentuh angka 9.0% bandingkan dengan malaysia yang penetrasinya sudah 47.8%. Rendahnya tingkat penetrasi produk teknologi tinggi ini berhubungan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat kita. Namun jangan pesimis dulu, sebab konsumen yang berusia muda kini lebih adaptif dengan teknologi baru karena dorongan arus globalisasi. Sayangnya, daya beli mereka tidak begitu tinggi. Untuk mengatasi masalah daya beli ini, pemasar bisa mengusung strategi Price Bundling, seperti yang di lakukan Fren, Esia, Flexi dan yang lainnya. Bisa juga dengan mempermudah penggunaanya seperti yang dilakukan oleh Nokia.

 

  1. 5.                Orientasi pada konteks


Konsumen kita cenderung menilai dan memilih sesuatu dari tampilan luarnya. 
Dengan begitu, konteks-konteks yang meliputi suatu hal justru lebih menarik 
ketimbang hal itu sendiri.

Tiga ciri spesifik konsumen kita dalam menyerap informasi:

 

a.         Memiliki minat baca yang rendah.

b.         Memilih segala sesuatu baik dari membaca atau menonton yang ringan dan menghibur.

c.         Mudah diubah persepsinya.

 

Dampak dari ciri tersebut terhadap perilaku komsumsi orang Indonesia 
dibuktikan dengan layanan informasi SMS yang didominasi layanan ring tone dan musik. Selain itu tampak pula dengan tingginya rating acara-acara infotainment. Keengganan membaca juga menyebabkan konsumen kurang memperhatikan informasi yang terdapat pada suatu produk. Banyak produk farmasi yang mempunyai kandungan yang sama persis dan fungsi yang sama tetapi karena cara komunikasinya berbeda, akhirnya persepsi yang tercipta lain pula. Sekitar 99% konsumen kita tidak mengerti kandungan obat bebas.

 

  1. 6.                Suka merek luar negeri

 

Soal menyamar, kita bisa belajar dari Polytron. Sebab sudah 28 tahun produk 
elektronika asli dalam negeri ini “menyamar” sebagai merek mancanegara, 
dan cukup berhasil. Kenapa harus menyamar? Alasannya menyangkut image dan kualitas merek luar negeri yang dipersepsi lebih baik dan bergengsi dibandingkan buatan Indonesia. Penjajahan selama berabad-abad, mau tidak mau memang membuat bangsa Indonesia sering memandang inferior terhadap diri sendiri atau bisa juga karena sifat gengsi sehingga membuat merek-merek dari luar negeri begitu mendominasi pasar Indonesia dibandingkan merek lokal. Untunglah, sekarang sudah mulai banyak merek lokal yang unjuk gigi dipasar domestik walaupun beberapa diantaranya harus dengan cara menyamar seperti Polytron, Detron, Stanley Adams, dll.

 

  1. 7.                Religius

 

Konsumen Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah salah satu karakter khas konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya. Konsumen akan lebih percaya jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh agama, ulama atau pendeta. Konsumen juga suka dengan produk yang mengusung simbol-simbol agama. Sudah lama para pelaku bisnis memanfaatkan simbol-simbol agama dalam melakukan strategi pemasarannya. “ Promag “ adalah contoh sukses yang memanfaatkan hal itu. Berkembangnya bank Syariah di Indonesia juga tidak terlepas dari ciri konsumen Indonesia yang peduli pada agama, begitu juga dengan asuransi Syariah, pegadaian Syariah, dll. Kepedulian konsumen soal agama juga tercermin dari perilaku mereka dalam memilih produk yang berlabel halal walaupun kadang harus membayar lebih mahal.

 

  1. 8.                Gengsi

 

Konsumen Indonesia amat getol dengan gengsi. Banyak yang ingin cepat naik “ status ” walau belum waktunya. Saking pentingnya urusan gengsi ini, mobil-mobil mewah pun tetap laris terjual di negeri kita pada saat krisis ekonomi sekalipun.

 

Menurut Handi Irawan D., ada tiga budaya yang menyebabkan gengsi:

  1. Konsumen Indonesia suka bersosialisasi sehingga mendorong orang untuk pamer.
  2. Budaya feodal yang masih melekat sehingga menciptakan kelas-kelas sosial dan akhirnya terjadi “ pemberontakan ” untuk cepat naik kelas.
  3. Masyarakat kita mengukur kesuksesan dengan materi dan jabatan sehingga mendorong untuk saling pamer.

 

Banyak sekali produk yang sukses di Indonesia dengan memanfaatkan sifat gengsi ini seperti Mercedes-Benz, BMW, Nokia Communicator dan lain sebagainya. Karena dengan membeli produk yang mahal, kesuksesan yang mereka peroleh dapat dilihat oleh orang lain.

 

  1. 9.                Kuat di subkultur

 

Sekalipun konsumen Indonesia gengsi dan menyukai produk luar negeri, namun unsur fanatisme kedaerahannya ternyata cukup tinggi. Ini bukan berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain. Pada produk-produk tertentu, ada hal yang bersifat lokal yang memang harus diperhatikan. Contohnya:  orang Jawa suka manis, orang Padang suka yang pedas, orang Batak suka bicara keras, orang Semarang suka menawar, dll. Strategi pemasaran yang bisa dipakai adalah dengan membuat konten-konten lokal untuk kegiatan komunikasi atau dengan memperkuat aktivitas below-the-line di daerah dengan mengadopsi budaya lokal sehingga lebih mudah diterima konsumen setempat.

 

  1. 10.              Kurang peduli lingkungan

 

Salah satu karakter konsumen Indonesia yang unik adalah kekurangpedulian mereka terhadap isu lingkungan. Tetapi jika melihat prospek kedepan, kepedulian konsumen terhadap lingkungan akan semakin meningkat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan begitu pula dengan kalangan menengah atas relatif lebih mudah paham dengan isu lingkungan. Lagi pula mereka pun memiliki daya beli terhadap harga premium sehingga akan lebih mudah memasarkan produk dengan tema ramah lingkungan terhadap mereka. Sebaliknya, akan susah sekali memasarkan produk dengan tema ramah lingkungn untuk kalangan bawah.

 

 

  1. III.             Penutup

 

Evaluasi yang sangat penting dari setiap aktivitas bisnis adalah sumbangsihnya untuk keuntungan. Nilai fungsi pemasaran tertentu kerap diekspresikan sebagai return-on-investment (ROI), yaitu berapa banyak dana yang dihasilkan dari setiap dana yang dibelanjakan.

Tingkat Kesadaran Merek Sebelumnya

Perubahan Kesadaran Merek

Tingkat Kesadaran Merek Saat Ini

Angka Konversi Kesadaran Merek Ke Pangsa Pasar

Tingkat Pangsa Pasar Yang Dicapai

ROI atau Keuntungan

yang sangat mempengaruhi

Inilah hasil bersih dari semua keberhasilan dan kegagalan masa lalu

Kesadaran merek menurun karena proses pembusukan yang normal, dan meningkat karena:

  1. Volume biasa pemasaran/penjualan di atas pari
  2. Tingkat periklanan/penjualan melebihi rata
  3. Keberhasilan (saat ini dalam mengubah kesadaran merek sebelumnya ke pangsa pasar).

Angka konversi dibantu oleh:

  1. Kapasitas produksi yang tersedia atau baru dikembangkan
  2. Periklanan (dan tindakan lain) yang membentuk diferensial produk atau perusahaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan memperhitungkan biaya periklanan, kita dapat menhemat biaya pemasaran. Jadi, menurut saya, agar anggaran periklanan dapat digunakan seefisien mungkin, Sabun Kaki Actimed dapat diiklankan pada:

  1. Koran atau surat kabar harian
  2. Majalah wanita dewasa
  3. Televisi
  4. Radio
  5. Internet
  6. Majalah pria dewasa

 

  1. IV.             Daftar Pustaka

 

  1. Erik Pesona Nugraha; Slide Pengantar Periklanan; 2010; Jakarta; STIKS Tarakanita
  2. Erik Pesona Nugraha; Slide Periklanan dan Marketing; 2010; Jakarta; STIKS Tarakanita

3.         pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/…/43001-4-290156815880.doc; Pukul 13.00; Tanggal 11 Juni 2010

4.         http://rumahs2s.com/10karakterkonsumen.html; Pukul 14.00; Tanggal 11 Juni 2010

5.         http://www.romeltea.com/2009/05/14/media-massa-makna-karakter-jenis-dan-fungsi/; Pukul 16.00; Tanggal 11 Juni 2010

6.         http://www.beacorp.com/actimed.html; Pukul 12.00; Tanggal 11 Juni 2010

7.         Russel, J. Thomas; Whitehill King, Karen; Lane, W. Ronald; Prosedur Periklanan Edisi ke-17 Jilid 1; Jakarta; Indeks

 

 

 

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s